FH UNILAK -- Civitas Akademika FH Unilak mengikuti Kajian Akhlak dan Budi Seri ke 4 dengan Tema Halal dan Haram. Kajian bersempena peringatan isra' mi'raj Nabi Muhammad SAW. Kajian difokuskan pada substansi isra mi'raj yang disampaikan oleh Prof Dr Alaidin Koto, MA.
Kajian diawali dengan kutipan hadis dari Sahabat Anas Bin Malik tentang Riwayat Nabi Muhammad dibedah dada dan diberikan cahaya ilahi dan air zam zam. Proses bedah itu diceritakan dalam riwayat itu dilakukan oleh para malaikat untuk mensucikan jiwa Nabi.
Substansi isra mikraj adalah adanya peristiwa penerimaan perintah sholat yang langsung diterima nabi tanpa melalui perantara. Pada saat menjemput perintah sholat ini, Nabi sudah dalam keadaan suci karena sudah disucikan sebelumnya dengan air zam zam pada peristiwa yang diceritakan dalam riwayat Anas Bin Malik di atas.
Menurut Prof Alaidin Koto, sholat secara bahasa artinya doa, sedangkan secara syariat adalah proses interaksi antara hamba dengan pencipta. Sholat pada hakikatnya dapat mensucikan jiwa manusia jika dilaksanakan secara benar dan nilai sholat diamalkan dalam kehidupan. Dalam praktiknya, banyak praktik setelah sholat melakukan maksiat. Prof Alaidin Koto membuat suatu istilah Sholat Terus Maksiat Jalan (STMJ).
Sholat yang dilakukan dengan benar dapat berdampak pada aktivitas individu sebagai kesalihan sosial seperti infak, zakat, dan sedekah. Prof Alaidin Koto menjelaskan bahwa infak dapat mengembangkan suatu objek yang diberikan oleh individu yang bersangkutan. Bahkan al Quran menyatakan bahwa infak dapat mengembangkan harta menjadi berlipat ganda. Selain itu, bagi pembelajar, termasuk dosen yang sedang menjalani proses pendidikan Doktor (S3) perlu membiasakan berinfak agar proses berlipat ganda pahala menjadi kemudahan dalam penyelesaian kuliah.
Bagi para dosen, infak yang dapat dilakukan adalah infak dalam pembelajaran dengan memberikan ilmu pengetahuan kepada mahasiswa maupun masyarakat. Satu ilmu yang diberikan kepada orang lain dapat menebar kebaikan kebaikan yang lain secara berkala, sehingga akan berkembang secara terus menerus ketika ilmu itu disampaikan kepada orang lain oleh mahasiswa.
Prof Alaidin Koto menegaskan bahwa seorang dosen tidak boleh menahan dan menyembunyikan ilmu. Ilmu harus disampaikan kepada mahasiswa dan masyarakat secara transparan dan objektif. Ketika dosen menyembunyikan ilmu maka dapat terjadi hoaks dalam proses transfer ilmu.
Diakhir kajian, Prof Alaidin Koto menyampaikan bahwa nilai spiritualitas sholat dapat mengantarkan seseorang menjadi salih secara individu dan sosial. Kesalihan individu dapat diterapkan dengan menjadi insan yang selalu menegakkan amar makruf nahi munkar, sedangkan kesalihan sosial diterapkan dengan berinfak baik infak berupa harta maupun infak berupa ilmu.
