Tingkatkan Kualitas Ruhani, Civitas Akademika FH Unilak Ikuti Kajian Peringatan 1 Muharram

Tingkatkan Kualitas Ruhani, Civitas Akademika FH Unilak Ikuti Kajian Peringatan  1 Muharram

FH UNILAK -- Civitas Akademika FH Unilak mengikuti Kajian Akhlak dan Budi di Masjid Jamiah Alfatah Unilak pada 21 Juli 2023 jam 07.30 Wib. Kajian ini untuk edisi khusus Peringatan 1 Muharram dengan Penceramah Prof. Dr.H. Alaidin Koto, MA. Hadir juga dalam kajian adalah Rektor Unilak, Prof. Dr Junaidi SS MHum dan para Wakil Rektor, Kabiro, Kabag, dan Ketua Badan Lembaga Se Unilak.

Prof Alaidin mengawali kajian dengan memberikan ilustrasi sejarah dalam Islam yang dapat dijadikan sebagai contoh bagi Ummat Islam (Mauizoh Hasanah). Sejarah yang paling terkenal dalam Sejarah Islam adalah Peristiwa Hijrah Nabi Saw untuk melakukan pembaruan strategi perjuangan Islam. Dalam hijrah, Nabi Saw bersabda: Hijrah adalah Perintah Allah Swt, sehingga Aku tidak akan berhijrah jika bukan karena Perintah Allah Swt (Hadis Nabi). Menurut Prof Alaidin Koto, Hijrah sebetulnya adalah upaya untuk menjernihkan upaya yang bersungguh-sungguh secara total untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Menurut Prof Alaidin Koto, hijrah bagi akademisi adalah adanya upaya hijrah intelektual yang dapat menghasilkan ide-ide baru dengan kajian dan penelitian mendalam. Seorang akademisi tidak pernah berhenti belajar bahkan hingga menjadi Guru Besar. Pada saat seorang akademisi masih S2, dapat hijrah ke S3, setelah tamat S3 menuju Guru Besar atau Profesor. Demikian siklus hijrah akademisi.

Hijrah Nabi ke Madinah berhasil menjadikan Masyarakat Islam yang madani ( masyarakat yang lebih tertata pada saat itu). Perubahan masyarakat Islam di Madinah dijadikan rule model oleh berbagai Pengkaji saat ini terkait dengan Islam Madani (masyarakat yang berperadaban tinggi).

Menurut Prof Alaidin Koto, saat ini hijrah digunakan dengan simbol seperti pakaian dengan alasan itu adalah sunnah. Pakaian yang digunakan adalah pakaian islami, namun pakaian yang digunakan tidak menjamin prilaku yang baik, seperti tidak menjaga lidah untuk membicarakan orang lain. Prilaku yang seperti ini hijrah dari satu kemaksiatan ke kemaksiatan yang lain, bukan hijrah seperti yang diajarkan oleh Nabi Saw.

Bahkan Prof Alaidin Koto prihatin dengan sikap menyombongkan diri dengan pakaian, pangkat, dab gelar, atau marah pada saat tidak disebut gelar yang panjang. Prof Alaidin Koto menceritakan kisah pertemuannya dengan Ajip Singh, Konsulat Singapura beragama Sigh yang selalu menggunakan gelang besi. Saat Prof Alaidin bertanya, untuk apa gelang itu, Ajip Singh menjawab bahwa selama gelang itu ada ditangannya, maka Ajip Singh tidak akan menyentuh susuatu yang haram.

Kajian diakhiri dengan ilustrasi Prof Alaidin Koto dengan ciri khas orang berhijrah adalah berfikir tentang masa depan yang lebih gemilang dan jangka panjang dengan menyiapkan sistem yang baik. Prof Alaidin Koto mengajak jamaah Civitas Akademika untuk lebih berfikir kritis dan cerdas, sehingga momentum hijrah dapat dimaknai lebih substantif dan sesuai dengan ajaran Rasulallah Saw.

Hello!

Klik salah satu customer service kami untuk mengobrol di WhatsApp atau kirim email kepada kami [email protected]

Support Customer Service 1
+6285178358464
Hubungi kami dari pukul 08.00 WIB sampai dengan 16.00 WIB
Halo! Apa yang bisa kami bantu?
×
Apa yang bisa saya bantu?