Pekanbaru – Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning (FH Unilak) kembali mengukir prestasi akademik yang membanggakan. Tiga mahasiswa tingkat akhir berhasil menembus forum ilmiah internasional dengan mempresentasikan hasil riset skripsi mereka pada ajang International Conference on Governance, Economy, and Public Policy (ICGEPP) 2025 pada 23 September 2025. Kehadiran mereka tidak hanya membawa nama baik pribadi, tetapi juga memperlihatkan kontribusi mahasiswa hukum Indonesia dalam diskursus global mengenai tata kelola perusahaan, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan industri strategis.
Mahasiswi pertama, Tutu Sara Saufika, mempresentasikan penelitian berjudul “Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan oleh Perusahaan Kelapa Sawit di Provinsi Riau.” Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa Riau sebagai provinsi dengan lahan sawit terbesar di Indonesia menghadapi tantangan besar terkait pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meski kerangka hukum sudah cukup jelas melalui UU Nomor 40/2007 Pasal 74, PP Nomor 47/2012, hingga Perda Riau Nomor 6/2012, pelaksanaan di lapangan masih jauh dari harapan. Beberapa perusahaan seperti PTPN V memang cukup aktif melalui program kemitraan dan bina lingkungan, sementara PT Andika Permata Sawit Lestari (APSL) fokus pada pemberdayaan masyarakat melalui program Income Generating Activity (IGA). Namun, aspek transparansi, pelaporan, dan pengawasan masih menjadi persoalan serius. Kesimpulannya, CSR sawit di Riau belum sepenuhnya efektif sesuai dengan regulasi yang ada.
Mahasiswi kedua, Sepryella Alysa Witri, mengangkat tema “Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) dalam Mendukung Tata Kelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Sektor Perbankan Kategori Perseroan Daerah (Perseroda) Paska Konversi Menjadi Bank Umum Syariah (BUS) pada PT Bank Riau Kepri (BRK) Syariah.” Ia menyoroti bagaimana prinsip GCG menjadi pilar penting dalam memperkuat tata kelola perbankan daerah pasca konversi BRK menjadi Bank Umu Syariah (BUS). Penelitiannya menunjukkan bahwa implementasi GCG tidak hanya terkait kepatuhan hukum, tetapi juga menyangkut transparansi, keterbukaan informasi, hingga kepercayaan pemegang saham. Menurutnya, masih ada ruang perbaikan dalam hal komunikasi dan pelaporan agar tata kelola bank syariah ini benar-benar sesuai prinsip profesionalisme dan keberlanjutan.
Sementara itu, Tengku Marisha Alda Salsabilla membawakan penelitian berjudul “Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) dalam Mendukung Tata Kelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kategori Perusahaan Umum Daerah (Perumda) PT Riau Petroleum.” Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip transparansi, akuntabilitas, independensi, serta kewajaran dalam meningkatkan kinerja perusahaan daerah strategis tersebut. Penelitiannya juga mengidentifikasi sejumlah hambatan implementasi, termasuk keterbatasan sumber daya dan tantangan birokrasi. Namun, ia menawarkan rekomendasi praktis agar Perumda Riau Petroleum dapat membangun tata kelola yang lebih profesional dan dipercaya publik.
Salah satu presenter, Tengku Marisha Alda Salsabilla, menyampaikan kesannya mengikuti forum internasional tersebut: “Kesempatan ini membuka wawasan kami bahwa penelitian skripsi bukan hanya sekadar syarat akademik, tetapi bisa memberi kontribusi nyata dalam percakapan global. Saya merasa bangga dapat membawa isu GCG di Perumda Riau Petroleum ke tingkat internasional, sekaligus belajar bagaimana mahasiswa dari berbagai negara juga menghadirkan perspektif mereka,” ujarnya.
Ketiga skripsi tersebut berada di bawah bimbingan Prof. Dr. Fahmi, SH, MH, Guru Besar Hukum Perusahaan FH Unilak, dan Muhammad Azani, S.Th.I., M.S.I.. Keduanya tidak hanya membimbing penyusunan skripsi, tetapi juga mendampingi mahasiswa dalam menyiapkan artikel akademik agar dapat dipresentasikan di forum internasional.
Dalam komentarnya, Prof. Fahmi menekankan pentingnya mendorong mahasiswa untuk menembus ruang akademik internasional: “Kami ingin membuktikan bahwa mahasiswa FH Unilak mampu berkompetisi di panggung global. Skripsi yang biasanya berhenti di rak perpustakaan, harus didorong menjadi karya yang bisa didiskusikan dan diapresiasi di konferensi internasional. Inilah langkah nyata kami dalam mencetak generasi hukum yang tidak hanya kritis, tetapi juga berdaya saing internasional,” tegasnya.
Partisipasi tiga mahasiswa ini dalam ICGEPP 2025 tidak hanya menjadi kebanggaan bagi mereka, tetapi juga mengukuhkan posisi FH Unilak sebagai salah satu fakultas hukum di Indonesia yang aktif mengembangkan riset mahasiswa ke level global. Dukungan bimbingan dosen, kolaborasi akademik, serta dorongan institusi menjadi faktor penting di balik keberhasilan ini. Ke depan, pengalaman ini diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa lain untuk menjadikan karya ilmiah mereka lebih berdampak. Dengan begitu, skripsi bukan lagi sekadar akhir dari studi, tetapi awal dari kontribusi nyata di dunia akademik dan praktik hukum dalam dinamika internasional.
