FH UNILAK -- Civitas Akademika FH Unilak mengikuti Kajian Rutin Jumat pagi Sesi ke 2 pada 10 Februari 2023 di Masjid Alfatah Universitas Lancang Kuning. Semua unsur pimpinan, dosen, dan pegawai FH Unilak hadir dalam kajian tersebut. Kajian dimulai pada pukul 07.30 dan selesai pada 09.00. Tema kajian Sesi 2 adalah Ilmu yang terpuji dan ilmu yang tercela dengan panduan dasar dari Kitab Ihya Ulumuddin karya Abu Hamid Al Ghazali pada Abad Ke 11 Masehi.
Prof Alaidin Koto MA menerangkan bahwa Civitas Akademika FH Unilak secara khusus dan Civitas Unilak pada umumnya harus memajukan peradaban ilmu pengetahuan di lingkungan kampus. Pengembangan ilmu didasarkan pada spesifikasi ilmu yang dimiliki oleh masing-masing civitas akademika, sehinga setiap insan akademik dapat memberikan cahaya atau mercusuar bagi FH Unilak dan kampus secara umum. Sudah seharusnya civitas akademika sendiri yang dapat mengenalkan FH Unilak ke luar Unilak, bukan orang di luar FH Unilak yang menerangi cahaya kemajuan ilmu bagi kampus Unilak. Civitas Akademika harus mendalami dan mengembangkan Ilmu hingga ke Level Hikmah atau kebijaksanaan.
Menurut Prof Alaidin Koto, Ilmu pada level hikmah adalah ilmu yang memberikan manfaat kepada orang lain. Seorang akademisi dengan bidang keilmuan hukum dapat memberikan manfaat pada orang lain dengan menegakkan amar makruf nahi mungkar dengan menyeimbangkan keadilan dan menolak kemungkaran dengan kekuatan ilmunya.
Ilmu hikmah sesungguhnya dapat membawa seorang insan akademik bekerja sehari-sehari semata-mata mengharapkan ridho Allah, sehingga lebih fokus pada pekerjaan, ,mengajar, menyusun luaran proses pembelajaran, luaran penelitian dan sebagainya. Sebaliknya, insan akademik tanpa ilmu hikmah adalah mengerjakan sesuatu hanya sekedar sebagai kewajiban. Ciri ilmu hikmah bagi dosen adalah adanya keinginan terus menerus untuk menghasilkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan menulis artikel yang dipublikasikan dan dapat disitasi oleh masyarakat akademik dan non akademik, sehingga ilmu dapat memberikan manfaat bagi yang lain.
Prof Alaidin Koto mengutip pandangan guru beliau Prof Sutan Takdir Alisyahbana bahwa usia manusia dibandingkan dengan panjangnya usia dunia hanya sekecil kuku. Secara alamiah usia manusia tidak diketahui oleh manusia, ,dapat panjang dan dapat pendek, sesuai dengan kehendak Allah. Bagi yang berumur panjang belum dapat dibandingkan dengan usia dunia yang panjang, apalagi yang berumur pendek. Hanya saja menurut Prof Alaidin Koto, yang penting bagi manusia sebagai insan akademik adalah ucapan dan tindakan dapat memberikan contoh kepada orang lain.
Kemanfaatan ilmu menurut Prof Alaidin Koto adalah rendah hati sebagai bagian dari cara bersyukur. Prof Alaidin Koto mencontohkan seorang yang telah meraih gelar magister (S2) dan diundang berceramah, ketika disebut tanpa dengan gelar MA, yang bersangkutan menjadi marah karena merasa memperoleh gelar MA berbiaya mahal dan sulit. Contoh ini termasuk insan akademik yang tidak rendah hati dengan ilmunya.
Diakhir kajian, Prof Alaidin Koto menjelaskan bahwa orang yang berilmu adalah mudah menerima nasihat yang baik dari orang lain. Prof Alaidin menceritakan kegelisahan batin Prof BJ Habibie pada saat istri telah meninggal dunia, setiap sore ke makam istri untuk mencari pegangan hidup, namun cara yang ditempuh salah karena orang yang telah meninggal dunia tidak bisa membantu manusia yang masih hidup. Saat itu, seorang sahabat habibie memberi nasihat agar habibie kembali kepada agama untuk dekat kepada Allah.
Prof Alaidin Koto memberikan nasihat: Kampus harus menjadi mercusuar dan harus memberi manfaat kepada masyarakat di luar kampus.
Dalam sesi tanya jawab, Dr Eno Suwarno MSi menyampaikan pertanyaan bagaimana cara menjadikan insan akademik sebagai insan yang pendakwah pada level masing-masing? Prof Alaidin Koto menegaskan bahwa tugas dakwah bukan hanya tugas ustad, namun semua insan akademik memiliki misi dakwah, amar makruf nahi mungkar. Dalam misi dakwah, bagi penceramah yang sedang menyampaikan materi kajian sekaligus mendapat ilmu-baru saat berceramah, artinya bisa saja saat berceramah mendapat ilmu-ilmu baru atau pemahaman baru.
Berdakwah yang paling baik adalah dengan dakwah bil hal atau dakwah dengan perbuatan. Kelebihan dakwah pola ini lebih mudah dicontoh oleh masyarakat dibandingkan dakwah dengan lisan, ceramah, kajian, dan sebagainya.
